Pep Guardiola Tidak Suka Dengan Gol Penalti Hasil Dari Aksi Raheem Sterling

Manajer dari Manchester City, yaitu Pep Guardiola, teleh mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengejutkan perihal gol dari penalti yang berasal dari sebuah aksi Raheem Sterling. Pep Guardiola telah menegaskan, dirinya sangat tidak suka dengan gol itu.

Pep Guardiola Tidak Suka Dengan Gol Penalti Hasil Dari Aksi Raheem Sterling

Pep Guardian telah menganggap tidak seharus nya ada nya penalti. Hal itu berkaitan dengan laga di Manchester City Donetsk Shakhtar Kontra, pada Matchday ke 4 liga Champions 2018 sampai dengan 2019, di Stadium Etihad. Di hasil akhir, Manchester United yang telah menang dengan enal gol tanpa ada nya balas.

Hanya saja, salah satu di antara gol dari Manchester city menuai sebuah kontroversi, Gol itu pun terjadi di menit ke 24. yang berasal dari sebuah eksekusi penalti dari Gabriel Jesus.

Bukan soal hanya teknik menendang Jesus ini yang dari salah satu hal lain, tetapi kontroversi yang di pantik sebagai penyebabnya penalti. Dilihat dari tayangan ulang, Sterling jatuh bukan hanya karena pemain lawan. tetapi melakukan sebuah gerakan yang salah.

Raheem Sterling juga sudah mengakui jika memang dia tidak di sentuh oleh lawan dan jatuh kerena kesalahannya sendiri. Wasit Kassai Viktor telah membuat kesalahan. Pep Guardiola telah mengakui jika Manchester City tidak layat mendapatkan penalti.

“Kami kemudian juga menyadari hal itu memang bukan sebuah penalti. Kami tak sukan dengan mencetak gol dengan cara yang seperti itu.. Tetapi, Sterling tidak juga menyadari nya.

Hal Ini Bisa Menjadi Kunci Untuk Timnas Indonesia Atasi Singapura

Piala AFF 2018 ini akan segera bergulir di 8 November sampai dengan 15 Desember 2018. Indonesia berada pada grup B Thailand, Singapura, Fillipina dan juga Timor Leste.

Hal Ini Bisa Menjadi Kunci Untuk Timnas Indonesia Atasi Singapura

Singapura ini akan jadi lawan perdana dari Timnas Indonesia. Laga untuk melawan Singapura sendiri akan di gelar pada Jumat (09/11/18) di Stadium National, Singapura.

Singapura ini bukan lah lawan yang mudah untuk di kalahkan oleh tim indonesia. Di ajang kejuaraan Piala AFF sendiri di kedua negara ini sudah bertemu dengan jumlah tujuh kali.

Dari tujuah kali pertemuan itu, Singapura tetap unggul Head to Head dengan sebanyak empat kali mengalahkan tim Indonesia. Sedangkan Indonesia baru saja dua kali mengalahkan tim dari Singapura.

Namun begitu, peta dari kekuatan kali ini tentu nya berbeda. Indonesia juga memiliki peluang yang besar untuk bisa menang dengan Singapura karena berada di atas kertas, Timnas Garuda Indonesia memiliki skuat yang sangat lebih kompetitif.

Berikut ini bisa menjadi kunci untuk Indonesia mengatasi Singapura

-Kualitas Teknik
Irfan Jaya, Evan Dimas, Andik Vermansah, dan Hansamu Yama pada saat latihan bersama Timnas Indonesia juga jelang melawan Hongkong.

Dengan wilayah yang luas hanya dengan 707.1 km persegi dan juga penduduk dengan sekitar 5,5 juta jiwa, maka wajar saja jika kita menyebut bahwa untuk mencari pemain-pemain yang berbakat di singapura sangat lah sulit di bandingkan dengan indonesia.

Gagliardini Telah Curi Perhatian Di Laga Piatek vs Icardi

Internazionale Milan dan juga Genoa CFC telah menjadi duel adu yang bergensi bagi
penyerang para andalan masing-masing di dalam kebelasaan. Di Inter ada juga Mauro
Icardi ia sudah mencetak jumlah 6 gol di musim ini, Genoa juga memiliki Krzysztof
Piatek saat ini dengan 9 gol sejauh ini, berada di dalam posisi teratas di daftar
pencetak gol yang terbanyak di Serie A 2018/19

Gagliardini Telah Curi Perhatian Di Laga Piatek vs Icardi
Gagliardini Telah Curi Perhatian Di Laga Piatek vs Icardi

Pada laga yang telah di gelar di Giuseppe Meazza, hari sabtu (3/11) tersebut baik
Piatek maupun Icardi sama-sama tidak bisa menambah koleksi gol mereka. Iner Milan
sendiri juga memenangi laga dengan skor sebanyak 5-0.

Roberto Gagliardini telah mencuri banyak perhatian dengan dua gol, masing-masing pada
menit ke-14 dan juga ke menit 49. Untuk pertama kali di dalam karrier nya.
Gagliardini telah mencetak dwigol di dalam pertandingan Series A. Di dalam Laga yang
melawan Genoa ini sendiri adalah sebuah pertandingan ke 96 Gagliardini pada divisi
tertinggi biang sepak bola italia.

Tiga gol yang lain dicetak Matteo Politano (16), Radja Nainggolan (90+4), dan Joao
Mario (90+1).

Hasil pertandingan ini telah membuktikan bahwa keputusan dari Luciano Spalletti agar
tidak untuk memainkan Icardi tepat. Penyerang dari berkebangsaan Argetina ini di
istirahatkan untuk persiapan pertandingan melawan Barcelona. Piatek, pada saat itu,
hanya bermain selama 39 menit.

Sebelum Terjebak Di MU, Di Maria Hampir Bergabung AS Monaco

Mantan dari Direktur, AS Monaco, Campos Luis, mengungkapkan perjalanan dari karier sang Angel Di Maria. Ternyata pemain yang berasal dari Argentina itu hampir saja bergabung dengan AS Monaco.

 Sebelum Terjebak Di MU, Di Maria Hampir Bergabung AS Monaco
Sumber dari Line Today

Kejadiaan nya itu bermula dari saat ia berniat pindah setelah dari empat musim yang memperkuat Real Madrid. Pada di musim 2015/16, Di Maria pun akhirn ya telah memutuskan bisa berlabuh di Inggris setelah MU bayar dengan sebesar 75 juta Euro

Namun MU hanya bisa merasalan servis dari Di Maria selama satu musim saja. Pemain yang berasal dari Argentina ini tidak memiliki banyak hubungan yang baik kepada pelatih MU kalah itu, Van louis Gaal. Di Maria akhir nya pun untuk memilih pindah ke Ligue 1 bersama dengan PSG.

Luis Campos juga mengatakan bahwa Di Maria bisa saja ia pindah ke Ligue 1 lebih awal sebelum bergabung ke Paris Saint-German. Sebab, pada tahun 2014, Mereka sudah ada pembicaraan dengan pihak Di Maria dengan klub Ligue yakni AS Monaco yang memiliki proyek yang besar.

Luis Campos adalah seorang eks pemandu dengan bakat Real Madrid. Pada musim 2013/14, ia pindah ke AS Monaco sebagai jabatan direktur Teknik. Di saat itu , Luis Campos sangat ini mendatangkan Di maria Ke AS Monaco dan hal itu pun hampir saja menjadi kenyataan

Sehebatnya Mbappe, Aturan Klub Harus Tetap Dipatuhi

Di Ligue Le Classique 1 barangkali sudah tidak lagi bisa di sebuat sebagai Le
Classique. Karena begini. Nama dari Le Claasique itu di beri karena dua kontestan yang ada di sana, Paris Saint-Germain dan juga Olympique Marseille, adalah dua dari tim terkuat yang harus nya bisa saling mengalahkan. Tapi faktanya, Akhir-akhir ini hal tersebut masih belum pernah terjadi.

Terakhir kali nya Marseille menang atas Paris Saint-Germant adalah di tahun 2011. Pada saat itu, Paris Saint-Germant memang sudah jadi milik dari Qatar Sport Investment (QSI). Akan tetapi, mereka masih juga belum sekuat yang sekarang. Bahkan, pada musim di tahun 2011/12 itu yang jadi juara Ligue 1 bukan lah Paris Saint- Germant, melainkan tim dari kejutan bernama Montpellier.

Pada hari senin (29/10/2018) WIB, Marseille telah menelan kekalahan dari kedelapan dan sepuluh pertandingan terakhirnya yang menghadapi Paris Saint-German. Berlaga di Velodrome Stade, Payet Dimitri dkk, kalah dengan total skor 0-2.

Sebenar nya, Marseille tidak hanya bisa dibilang tampil cukup buruk pada laga tersebut. Dengan persentase telah menguasaan bola 46 persen, mereka juga mampu melepas jumlah 12 tembakan. Jumlah tembakan Marseille hanya itu berselisih satu dari semua total upaya yang terlah dilancarkan oleh tim tamu. Pendek kata, Marseille telah berhasil mengimbangi Paris Saint-Germant. Setidaknyam begitulah yang telah terjadi sampai pertandingan yang memasuki menit ke 62.